Chat via WhatsApp
Kamus Digital Webside.id

Apa Itu Procedural Programming Architecture?

Procedural Programming Architecture adalah rancangan komponen, hubungan, tanggung jawab, dan aliran data yang membentuk procedural programming agar dapat dikembangkan serta dipelihara.

Pengertian Procedural Programming Architecture

Procedural Programming Architecture adalah rancangan komponen, hubungan, tanggung jawab, dan aliran data yang membentuk procedural programming agar dapat dikembangkan serta dipelihara. Penggunaan Procedural Programming Architecture sebaiknya dimulai dari masalah yang jelas. Bagi software engineer, architect, QA, DevOps, dan product team, istilah ini berguna untuk membedakan tujuan, proses, indikator, dan risiko dalam rekayasa perangkat lunak, arsitektur, testing, deployment, dan operasi.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas requirement, code dan dependency. Evaluasi tidak cukup berhenti pada satu angka; lead time, deployment frequency dan defect rate perlu dibaca bersama konteks perubahan dan dampaknya terhadap pengguna atau bisnis.

Cara Kerja Procedural Programming Architecture

  1. Untuk Procedural Programming Architecture, tentukan tujuan dan ruang lingkup procedural programming sebelum memilih tool atau metode.
  2. Siapkan input yang relevan seperti requirement, code, dan data pendukung lainnya.
  3. Jalankan proses dengan kriteria keberhasilan dan penanggung jawab yang jelas.
  4. Review hasil melalui lead time, deployment frequency, lalu dokumentasikan perbaikannya.

Manfaat dan Kegunaan

  • Memudahkan evaluasi karena perubahan dapat dibandingkan terhadap baseline dan indikator yang disepakati.
  • Membantu mendeteksi risiko lebih awal sebelum berdampak pada pengguna, biaya, atau stabilitas proses.
  • Membuat hasil Procedural Programming Architecture dapat ditinjau bersama indikator seperti lead time, deployment frequency, dan defect rate.
  • Membantu memisahkan masalah data, proses, teknologi, dan keputusan sehingga perbaikannya lebih tepat sasaran.

Penerapan dalam Bisnis

Procedural Programming Architecture berguna ketika tim perlu memilih trade-off antara performa, kompleksitas, biaya, dan maintainability. Gunakan test suite untuk menyamakan konteks, data, dan keputusan yang akan diambil. Hasilnya dapat ditinjau melalui lead time dan deployment frequency.

Contoh Procedural Programming Architecture

Contohnya, deployment sering gagal karena perbedaan environment dan dependensi. Tim mendokumentasikan kondisi awal dalam source code, menerapkan Procedural Programming Architecture pada ruang lingkup terbatas, lalu membandingkan deployment frequency dengan lead time. Hasil dan alasan perubahan dicatat pada runbook sebelum pendekatan diperluas.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

  • Menerapkan Procedural Programming Architecture tanpa menjelaskan tujuan, baseline, dan keputusan apa yang akan dipengaruhi.
  • Menggunakan data yang periodenya, definisinya, atau sumbernya berbeda lalu membandingkannya seolah setara.
  • Mengejar satu metrik sambil mengabaikan kualitas, biaya, pengalaman pengguna, atau risiko.
  • Tidak menyimpan log, baseline, atau catatan perubahan sehingga masalah yang sama sulit ditelusuri.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu Procedural Programming Architecture?

Procedural Programming Architecture adalah rancangan komponen, hubungan, tanggung jawab, dan aliran data yang membentuk procedural programming agar dapat dikembangkan serta dipelihara.

Apakah Procedural Programming Architecture harus menggunakan tool tertentu?

Tidak selalu. Tool hanya membantu implementasi. Hal yang lebih penting adalah definisi, data, proses, kepemilikan, dan kriteria keberhasilan yang sesuai dengan kebutuhan.

Bagaimana cara mengevaluasi Procedural Programming Architecture?

Evaluasi Procedural Programming Architecture dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah tindakan. Gunakan lead time, deployment frequency, dan satu indikator kualitas agar hasil tidak dinilai dari satu metrik saja.