Chat via WhatsApp
Kamus Digital Webside.id

Apa Itu Cloud-Native Architecture?

Cloud-Native Architecture adalah rancangan komponen, hubungan, tanggung jawab, dan aliran data yang membentuk cloud-native agar dapat dikembangkan serta dipelihara.

Pengertian Cloud-Native Architecture

Cloud-Native Architecture adalah rancangan komponen, hubungan, tanggung jawab, dan aliran data yang membentuk cloud-native agar dapat dikembangkan serta dipelihara. Pada implementasi sehari-hari, Cloud-Native Architecture menjadi relevan karena keputusan dalam rekayasa perangkat lunak, arsitektur, testing, deployment, dan operasi sering melibatkan beberapa data, kanal, atau komponen sekaligus.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas requirement, code dan dependency. Evaluasi tidak cukup berhenti pada satu angka; lead time, deployment frequency dan defect rate perlu dibaca bersama konteks perubahan dan dampaknya terhadap pengguna atau bisnis.

Cara Kerja Cloud-Native Architecture

  1. Untuk Cloud-Native Architecture, tentukan tujuan dan ruang lingkup cloud-native sebelum memilih tool atau metode.
  2. Siapkan input yang relevan seperti requirement, code, dan data pendukung lainnya.
  3. Jalankan proses dengan kriteria keberhasilan dan penanggung jawab yang jelas.
  4. Review hasil melalui lead time, deployment frequency, lalu dokumentasikan perbaikannya.

Manfaat dan Kegunaan

  • Mengurangi pekerjaan ulang akibat keputusan yang tidak terdokumentasi atau definisi yang berbeda.
  • Menghubungkan pekerjaan teknis atau operasional dengan hasil yang dapat dipahami oleh pemilik bisnis.
  • Membuat hasil Cloud-Native Architecture dapat ditinjau bersama indikator seperti lead time, deployment frequency, dan defect rate.
  • Memberi dasar yang lebih jelas untuk menentukan prioritas berdasarkan dampak, bukan asumsi.

Penerapan dalam Bisnis

Salah satu konteks praktis Cloud-Native Architecture adalah saat insiden produksi sulit dianalisis karena log dan observability tidak memadai. Gunakan source code untuk menyamakan konteks, data, dan keputusan yang akan diambil. Hasilnya dapat ditinjau melalui lead time dan deployment frequency.

Contoh Cloud-Native Architecture

Contohnya, tim perlu memilih trade-off antara performa, kompleksitas, biaya, dan maintainability. Tim mendokumentasikan kondisi awal dalam CI pipeline, menerapkan Cloud-Native Architecture pada ruang lingkup terbatas, lalu membandingkan deployment frequency dengan reliability. Hasil dan alasan perubahan dicatat pada test suite sebelum pendekatan diperluas.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

  • Menerapkan Cloud-Native Architecture tanpa menjelaskan tujuan, baseline, dan keputusan apa yang akan dipengaruhi.
  • Memulai dari tool atau fitur sebelum menjelaskan masalah dan hasil yang ingin dicapai.
  • Menganggap korelasi sebagai penyebab tanpa melakukan verifikasi atau pengujian tambahan.
  • Menerapkan aturan yang sama ke seluruh kasus meskipun konteks, audiens, atau batasannya berbeda.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu Cloud-Native Architecture?

Cloud-Native Architecture adalah rancangan komponen, hubungan, tanggung jawab, dan aliran data yang membentuk cloud-native agar dapat dikembangkan serta dipelihara.

Kapan Cloud-Native Architecture perlu diprioritaskan?

Cloud-Native Architecture layak diprioritaskan ketika masalah sudah berdampak pada hasil, menimbulkan pekerjaan ulang, atau membuat tim sulit membedakan kondisi normal dengan anomali. Prioritas sebaiknya ditentukan dari dampak dan bukti, bukan tren.

Apakah Cloud-Native Architecture harus menggunakan tool tertentu?

Tidak selalu. Tool hanya membantu implementasi. Hal yang lebih penting adalah definisi, data, proses, kepemilikan, dan kriteria keberhasilan yang sesuai dengan kebutuhan.